19 Agustus 2016

Memasuki Pintu Raja Abdullah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berjalan dari arah gerbang pintu Raja Abdul Aziz, kemegahan gerbang pintu Raja Abdullah sudah terlihat kemegahannya. Saya seperti liliput ketika melewati pintunya yang besar menjulang tinggi.
Tinggi pintu sekitar tujuhan meter dengan lebar empat meter. Ketebalan pintunya sekitar 15 sentimeter dan seperti terbuat dari kayu jati yang kokoh. Kemegahan pintunya seakan mewakili kemegahan bangunan gate (gerbang) Raja Abdullah yang menjadi bagian dari megaproyek perluasan kawasan Masjidil Haram.
Renovasi Masjidil Haram memang bukan sesuatu yang baru. Bahkan, Rasulullah pernah ikut membantu merenovasi Ka’bah ketika usianya masih 35 tahun. Rasul dipercaya oleh orang-orang Quraisy untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempat semula.
Bahkan, Ka’bah saat itu sempat diruntuhkan lebih dulu untuk keperluan renovasi. ‘’Orang Quraish tidak berani meruntuhkannya karena takut mendapat bencana. Tapi, Al Walid bin Al Mughirah berkata,’Aku yang akan memulai meruntuhkan Ka’bah’,’’ tulis Prof. Dr. Ali Husni Al Kharbuthli, guru besar sejarah Islam di Universitas Ain Shams Kairo, dalam bukunya ‘Sejarah Ka’bah: Kisah Rumah Suci Yang Tak Lapuk Dimakan Zaman’.
Dinginnya marmer putih langsung menyapa kaki ini ketika memasuki pintu Raja Abdullah. Dinginnya seperti dinginnya marmer pelantaran Ka’bah yang konon berasal dari marmer Thassos. Marmer asli Yunani yang memiliki efek dingin jika ditempa panas dan sebaliknya.
Abdul Mohsin bin Hamid, kepala Peneliti Masjid Nabawi, pernah menjelaskan soal teka teki mengapa lantai pelataran Ka’bah tetap dingin meski cuaca sangat panas sekali. Marmer Thassos asal Yunani adalah jawabannya. Bahkan, kata Abdul Mohsin, setiap ruangan di dalam Masjidil Haram tetap terasa sejuk meski cuaca panasnya sangat ekstrim.
Kemewahan berpadu kemegahan langsung tersaji ketika langkah ini memasuki area gerbang Raja Abdullah. Lampu-lampu mewah dalam ukuran besar bergelantungan di sepanjang lorong menuju tempat shalat. Lampu yang dibingkai ukiran berwarna emas itu juga bergelantungan di area tempat shalat.
Bentuknya seperti lampu fanus khas Timur Tengah yang selalu diburu ketika bulan suci Ramadhan tiba. Dalam arsitektur Islam, lampu sebagai perwujudan cahaya yang mampu memberikan pencerahan bagi lingkungan sekitar.
Kemegahan gerbang Raja Abdullah semakin terasa dengan kehadiran pilar-pilar raksasa di sejumlah titik. Dihiasi ornamen-ornamen emas, tiang-tiang megah itu juga terlihat mewah.
Kemegahan dan kemewahan seakan mewakili gerbang Raja Abdullah yang memiliki 124 pintu masuk ini. Almarhum Raja Abdullah sendiri yang merintis proyek raksasa ini untuk memperluas area Masjidil Haram sehingga bisa menampung dua juta jamaah. Megaproyek tersebut diharapkan rampung pada 2020.  
Pada Agustus 2011, proyek ambisius senilai Rp 37,28 triliun tersebut dimulai. Area Masjidil Haram diperluas dari 356.000 m2 menjadi 400.000 m2. Salah satu wujudnya dengan pembangunan gerbang Raja Abdullah yang memiliki dua menara masjid.
Raja Abdullah menghembuskan nafas pada Januari 2015 dalam usia 90 tahun. Namun, proyek ambisiusnya tetap berjalan hingga detik ini. Sang penggantinya, Raja Salman, Juli 2015 lalu meluncurkan lima proyek perluasan Masjidil Haram agar bisa mengakomodasi 1,6 juta jamaah.
Kemegahan dan kemewahan gerbang Raja Abdullah memang membuat siapa saja yang memasukinya berdecak kagum. Namun, kemegahannya tetap tidak mampu menggantikan rasa ketika mata ini melihat Rumah Allah. Wallahu A'lam Bishawab

artikel