10 Februari 2017

Berlomba mencakar langit

Perlombaan membangun menara terjangkung sejagat dimulai pada 1931 di Amerika Serikat dan selama empat dasawarsa gedung Empire State di Manhattan, New York, menjadi tertinggi di dunia.

Pada 1973 gelar itu pindah ke menara kembar World Trade Center. Setahun kemudian, the Wills Tower di Kota Chicago, Amerika merebut predikat sebagai bangunan terjangkung sejagat.

Saat ini skenarionya jauh berubah. Dengan ketinggian 828 meter, Burj Khalifah di Kota Dubai, Uni Emirat Arab, kini menjadi menara tertinggi di planet ini. 

Sejak akhir 1990-an, Asia mulai ikut persaingan di mana menara kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, menjadi bangunan pencakar langit terjangkung di Bumi pada 1998. Kemudian pada 2004 diambil alih oleh gedung Taipei 101 di Taiwan.

Kawasan Arab Teluk masuk dalam kompetisi lewat Burj Khalifah setinggi 828 meter dan Menara Jam Makkah di Arab Saudi dengan ketinggian 559 meter.

Menurut the Guardian, dari 20 gedung terjangkung sedunia saat ini, empat bangunan ada di Timur Tengah, empat di Amerika Serikat, dan 12 lainnya di Asia.

Gairah persaingan untuk mendirikan menara terjangkung sejagat tidak menurun. The Guardian memperkirakan paling lambat 2020 akan ada lebih dari 16 ribu menara tertinggi di veragam negara.

Perlombaan sekarang terjadi antara dua kota: Dubai dan Jeddah, Arab Saudi.

Pkonstruksi Emaar sejak tahun lalu mulai membangun calon gedung terjangkung sedunia di kawasan Dubai Creek Harbour. Direncanakan selesai pada 2020.

Di Kota Jeddah juga tengah dibangun menara setinggi 1.006 meter, diklaim bakal menjadi yang tertinggi sejagat. Bangunan ini dijadwalkan diresmikan pada 2020.


ALBALAD.CO

artikel