18 September 2015

Tradisi Warga Makkah Menjamu Tamu Allah

Tugas penyediaan makanan bagi jamaah haji ketika berada di Kota Makkah diberikan kepada bani Nawfal dan bani Hashim.

Kakek Nabi Muhammad SAW Abdul Al-Muttalib turut bertugas menyediakan makanan dan minuman di masa ketika Makkah dilanda kekeringan pada musim haji.

Atas izin Allah, ia bermimpi yang pada akhirnya mengarahkannya menemukan sumur air Zamzam. Ia tidak menemukannya sendiri, namun ditemani oleh anaknya Al-Harith.

 Alhasil, lewat penemuannya itu, masalah kekeringan air bisa terpecahkan. Hingga saat ini pun, sumur air Zamzam tetap digunakan di Masjidil Haram.
 
Onislam.net melansir, keramahtamahan penduduk Makkah akhirnya terkenal. Jamaah haji dari Suriah, Mesir dan Irak pergi ke Makkah secara berkelompok. Secara total, diperkirakan puluhan ribu jamaah haji sudah meramaikan Makkah kala itu.
 
Arus jamaah haji yang pergi ke Makkah semakin meningkat setelah Islam berkembang pesat. Sebelumnya, bagi penduduk Makkah, sudah terbiasa melihat jamaah haji menetap sementara.

Para jamaah haji ini disebut pula sebagai mujaawirun atau tetangga. Para mujaawirun ini biasa membangun tempat tinggal sementara di lereng atau puncak bukit. Alasan pemilihan lokasi itu karena banjir yang kadang melanda Makkah ketika itu.
 
Joseph Pitts, seorang Muslim asal Inggris yang menunaikan haji turut berkisah tentang Makkah.

"Para penduduk, khususnya pria biasanya tidur di atas rumah supaya memperoleh udara segar atau di ruang kosong di depan pintu. Sedangkan saya biasanya tidur tanpa kasur di atas rumah."
 
Kini, rumah tradisional milik penduduk lokal Makkah masih melanjutkan tradisi melayani jamaah haji. Seperti di masa lalu ketika Makkah belum memiliki hotel, maka penduduk sekitar  yang memberikan segala macam akomodasinya.

haji