08 Desember 2017

UMRAH PLUS ISTANBUL (Napak Tilas Kerajaan Ottoman di Turki)

UMRAH PLUS ISTANBUL

(Napak Tilas Kerajaan Ottoman di Turki)

Oleh : Muhammad Hafizh, S.Sos.I

Turki adalah salah satu negara di kawasan eropa yang banyak dikunjungi oleh wisatawan dari seluruh dunia dan lintas agama. Selain karena kondisi geografis Turki yang eksotis, hal lain yang menarik wisatawan untuk datang ke Turki adalah karena di dalamnya terdapat peninggalan sejarah dari abad pertengahan, yaitu Kerajaan Islam (Kekhalifahan) Turki Usmani. Kerajaan Turki Usmani adalah salah satu dari 3 kerajaan besar Islam pada abad pertengahan, selain kerajaan Safawi di Persia (sekarang Iran), dan Kerajaan Mughal di India. Hal inilah yang membuat travel-travel umrah & haji di Indonesia tak terkecuali Maktour group menyertakan paket wisata Turki dalam program Umrah yang mereka jual. Dan hasilnya sudah bisa ditebak, selalu habis terjual karena besarnya minat masyarakat Muslim Indonesia untuk bisa datang ke Turki menapak tilasi peninggalan Kerajaan Turki Usmani.

Bagi saya pribadi, bisa datang ke Turki adalah sebuah doa dan impian yang dilatar belakangi oleh keinginan melihat langsung peninggalan-peninggalan dari kerajaan Turki Usmani. Dari sejak masih duduk di bangku tsanawiyah, saya sudah belajar bagaimana digdayanya Kerajaan Turki Usmani di Eropa pada abad pertengahan (1299-1922).  Doa dan impian saya pun akhirnya terkabul, pada tanggal 12 Nopember 2017 saya ditugasi oleh Maktour untuk mendampingi sekaligus membimbing jamaah umrah plus Istanbul yang berjumlah 12 orang selama 12 hari.

Setelah menjalani ibadah Umrah selama 8 hari, maka pada tanggal 19 Nopember 2017 pukul 06.50 WSA (Waktu Saudi Arabiaà kalau di Indonesia berarti jam 10.50 WIB) saya dan jamaah terbang dari Jeddah ke Istanbul dengan menggunakan Turkish Airline-- TK-057 selama kurang lebih 4 jam perjalanan.

Begitu saya dan rombongan tiba di Attaturk International Airport di Kota Istanbul, hal pertama yang saya perhatikan adalah tidak adanya perbedaan waktu antara Jedah dan Istanbul. Itu berarti Istanbul sama seperti Jeddah 4 jam lebih lambat dari Waktu menuju loket imigrasi untuk proses entry (stamp visa).

Setelah melewati loket Imigrasi, kami langsung disambut oleh petugas bandara yang ditugaskan khusus dari travel agent Turki yang bekerja sama dengan Maktour untuk menyambut kami dan membantu kami dalam pengambilan barang-barang bagasi. Satu hal  yang selalu dijaga oleh Maktour adalah selalu memberikan layanan premium kepada seluruh jamaahnya baik dalam umrah, haji, maupun dalam wisata ke negara-negara lain seperti Turki, Mesir, Palestina/Jerussalem, dan juga Spanyol/Andalusia. Dalam wisata ke negara-negara tersebut, Maktour bekerja sama dengan travel agent setempat yang memberikan layanan premium bintang lima.

Setelah selesai dengan barang-barang bagasi, kami dipertemukan dengan local guide yang akan memandu kami selama berada di Turki. Local guide yang bertugas memandu kami selama di Turki adalah seorang wanita yang bernama Ms. Cansu Cigirdasman, beliau menyebut nama Panggilannya adalah Jansu.

 Tujuan pertama kami pada siang itu adalah Berziarah ke Makam Sahabat Rasulullah Abu Ayub Al-Anshari, salat zuhur, dan makan siang.

Segera kami menuju ke bus untuk beranjak ke lokasi yang sudah diagendakan. Bus yang kami naiki sama persis dengan bus yang kami pakai selama umrah di Tanah suci Mekah dan Madinah. Bus premium dengan AC dan lengkap dengan koneksi internet (Wifi). Hal lain yang saya amati ketika mendengar Ms. Jansu memperkenalkan diri adalah, bahwa Turki sudah sangat menyiapkan dengan baik kalau negaranya akan menjadi tujuan wisata para wisatawan dari seluruh dunia. Pemerintah Turki menyiapkan pendidikan dan pelatihan kepada para warga Turki yang berminat untuk menjadi local guide. Ada kurikulum khusus lengkap dengan ujiannya yang harus diikuti oleh para calon local guide. Selain itu para calon local guide ini juga menentukan wisatawan dari negara mana yang akan mereka ambil, guna memperdalam bahasa negara tersebut. Bila mereka lulus ujian ini maka mereka diberikan Lisensi resmi dari Pemerintah. Dan seluruh travel agent Turki hanya boleh merekrut mereka yang berlisensi resmi ini untuk dijadikan local guide dari setiap wisatawan yang datang. Dan tentu Ms. Jansu yang mendampingi kami sangat fasih berbahasa Indonesia.

Saat kami tiba di kota Istanbul waktu shalat zuhur masih 90 ,menit kedepan, maka saat itu kami memilih untuk makan siang terlebih dahulu di bukit Pierre lotti.

Tibalah kami di area Masjid Abu Ayub Al-Anshari. Di namakan demikian, karena masjid yang dipugar pada zaman Sultan Muhammad Al-Fatih ini berada disamping Makam Abu Ayub Al-Anshari yang merupakan sahabat Rasulullah dari golongan Anshar. Karena belum masuk waktu Zuhur, maka kami terlebih dahulu Makan siang di restoran yang berada bukit Pierre lotti. kami harus menaiki cable car untuk bisa sampai ke bukit Pierre lotti. Spontan kami mengucap Tasbih tatkala kami tiba di bukit Pierre lotti dan menyaksikan kota Istanbul dari atas bukit.

Keindahan kota Istanbul terlihat jelas dari atas bukit pierre loti

Kami pun menikmati pemandangan yang sangat indah dari atas bukit sambil menyeruput secangkir teh manis dan sepotong roti di Cafe Pierre lotti.  Setelah itu kami sama-sama menuju restoran untuk makan siang bersama. Setelah puas menikmati pemandangan dari atas bukit dan berfoto, kami pun turun dan menuju Masjid Abu Ayub Al-Anshari untuk melakukan salat jamak taqdim qashar zuhur dan ashar.

Masjid Abu Ayub Al-Anshari

Sebelum melakukan salat zuhur, kami terlebih dahulu berziarah ke Makam Abu Ayub Al-Anshari. Kondisi makam dan masjid cukup ramai didatangi oleh para peziarah. Dan rupanya mayotitas peziarah yang datang adalah para penduduk lokal yang memang sangat takzim kepada Abu Ayub Al-Anshari. Nama Asli beliau adalah Khalid bin Zaid. Beliau adalah salah satu sahabat dekat Rasulullah Saw. Beliau termasuk salah satu orang Yastrib yang pertama kali masuk Islam. Beliau ikut dalam rombongan orang-orang Yastrib yang berbaiat kepada Rasulullah Saw di Bukit Aqabah. Pada saat Rasulullah Saw hijrah ke Yastrib, seluruh penduduk Yastrib berebut meminta Rasulullah Saw tinggal sementara di rumah mereka, tetapi unta Rasulullah Saw berhenti di depan rumah Abu Ayub, sehingga diputuskanlah bahwa selama Masjid Nabawi dan tempat tinggal Rasulullah Saw dibangun di Yastrib, Rasulullah Saw tinggal di rumah Abu Ayub al-Anshari. Abu Ayub ikut berperang bersama Rasulullah Saw. untuk membela agama Allah. Peperangan terakhir yang beliau ikuti adalah pada masa Bani Umayah ketika hendak menaklukan konstatinopel. Beliau gugur sebagai syuhada pada pertempuran tersebut.

 

Foto (Kiri) : Saya dan Jamaah berada di area dalam Makam Abu Ayub Al-Anshari (Kanan) : Makam Abu Ayub Al-Anshari,  

Saat konstatinopel berhasil ditaklukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih (Sultan Mehmet II), barulah Makam Abu Ayub di pugar dan dibangunkan Masjid di dekat makam Beliau. Saya dan para jamaah Maktour berkesempatan untuk melaksanakan shalat jamak taqdim qashar di Masjid Abu Ayub Al-Anshari.

Melakukan Salat Jamak Taqdim Qashar di Masjid Abu Ayub Al-Anshari

Selesai menunaikan salat, agenda kami selanjutnya adalah menuju ke kota Bursa. Bursa adalah ibukota pertama kerajaan Turki Usmani sebelum akhirnya pindah ke Istanbul. Bursa merupakan salah satu kota yang terdapat di Turki bagian Asia. Untuk menuju Bursa kami harus melakukan perjalanan darat selama 4 jam dari kota Istanbul dan melintasi Selat Bosporus (selat yang memisahkan antara Turki bagian Asia dan Eropa). Saat kami berada di jembatan Selat Bosporus, lagi-lagi kami ber 13 mengucapkan tasbih untuk indahnya pemandangan yg kami lihat dari atas bus.

Selat Bosporous yang memisahkan antara Turki Bagian Asia dan Eropa

Setibanya di kota Bursa, kami langsung menuju ke hotel Intercontinental Bursa untuk bermalam. Keesokan harinya (hari ke-2) kami diajak oleh Ms. Jansu keliling kota Bursa. Terlebih dahulu kami diceritakan dan diajak untuk membeli cindramata khas turki, dan yang paling terkenal dari Turki adalah Minyak Zaitun dan makanan tradisional Turki sejak kekhalifahan Turki Usmani, yaitu locum. Selepas kami membeli oleh-oleh khas Turki, kami langsung menuju Uludag yang dalam bahasa Turki berarti Puncak Gunung. Hal menakjubkan kembali kami lalui yaitu ketika harus menaiki cable car  (kereta gantung) selama 45 menit untuk menuju ke puncak gunung Uludag. Selama 45 menit kami menyaksikan pemandangan kaki gunung Uludag dari atas, serasa naik helikopter.

Menggunakan Cabel Car menuju puncak Gunung Uludag

Gunung Uludag menjadi destinasi wisata favorit bagi siapapun yang datang ke Turki pada musim dingin khususnya karena turunnya salju di pegunungan tersebut. Saat rombongan kami tiba di puncak gunung, cuaca sudah sangat dingin sekitar -3°, hanya saja belum turun salju. Tetapi setelah kami turun dari puncak gunung 4 jam kemudian diinformasikan bahwa salju sudah turun di Pegununungan Uludag. Bukan rezeki kami bertemu salju pada hari itu.. he.he..he..

Agenda selanjutnya kami menuju ke Masjid Hijau (Yesil Cami’) untuk melaksanakan salat jamak taqdim qasar. Setelah itu kami berziarah ke Makam sultan Mehmet I, yang terletak di kota Bursa.. Makam Sultan Mehmet I merupakan destinasi terakhir yang kami datangi di kota Bursa, sebelum akhirnya kami Kembali menuju ke kota Istanbul dan kembali melewati Selat Bosporus. Tapi dalam perjalanan menuju Ke Istanbul, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Masjid Agung Kota Bursa yaitu Masjid UluCami’.

Di Dalam Masjid Hijau (Yesil Cami’)

 

Foto (Kiri) : Di depan Gapura Makam Sultan Mehmet I, (Kanan) : Di dalam Masjid Agung Bursa UluCami’

Setibanya di Kota Istanbul, Kami langsung menuju Hotel Hilton Bosporous. Hotel ini sangat istimewa karena letaknya yang dekat dengan Selat Bosporous, sehingga keindahan Selat Bosporous bisa kami nikmati sambil ditemani secangkir teh manis dari Balkon hotel. Yang tak kalah Istimewanya bagi saya yang menggemari olahraga sepak bola adalah letak hotel ini bersebrangan dengan stadion Klub sepak bola Besiktas (salah satu klub elite eropa yang ikut turnamen Uropa Champions League) yang di Informasikan bahwa besok malam waktu setempat akan berlangsung pertandingan UCL antara Besiktas VS FC Porto. Memang saya tidak menonton langsung pertandingan tersebut, tapi sorak-sorak dan gegap gempitanya pertandingan UCL yang selama ini hanya bisa saya saksikan dari layar kaca, terdengar dan terlihat jelas dari hotel tersebut.

Stadion Klub Besiktas dan Selat Bosporous yang terlihat dari Balkon Hotel

Setelah semalaman kami beristirahat di Hotel Hilton Bosporous, pagi harinya kami berkumpul di lobi hotel untuk sama-sama sarapan pagi di restoran hotel. Selesai sarapan, kami sudah ditunggu oleh Ms. Jansu yang langsung mengajak kami menuju ke bus. Akan banyak tempat yang kami kunjungi pada hari ke-tiga ini. Yang pertama Ms. Jansu mengajak kami ke salah satu toko yang menjual produk-produk yang terbuat dari kulit domba; seperti Jaket, tas, sepatu, dompet, dll. Selain kami melihat produk-produk tersebut, kami pun berkesempatan melihat dan terlibat dalam fashion show yang menampilkan produk-produk unggulan dari toko tersebut.

Terlibat dalam Fashion Show

Setelah melihat, terlibat, dan membeli beberapa produk kulit yang di pamerkan di toko tersebut, kami langsung menuju ke Istana terakhir dalam Kesultanan Turki Usmani yaitu Istana Dolmabahche. Istana megah yang dibangun pada Masa Sultan Abdul Majid I ini menghabiskan biaya yang setara dengan harga 35 Ton Emas murni. Di dalamnya terdapat ornamen-ornamen berlapis emas yang bila dijumlah seluruhnya mencapai 14 ton emas murni. Terdapat 6 sultan dari Kesultanan Turki Usmani yang menempati Istana ini, sampai akhirnya sistem kesultanan runtuh dan berganti menjadi Republik pada tahun 1923. Mustafa Kemal Attaturk presiden pertama Turki menjadikan Istana ini sebagai tempat tinggalnya selama menjadi presiden. Kami tidak boleh menyentuh apapun yang terdapat di dalam Istana. Pun kami tidak diizinkan untuk mendokumentasikan keadaan di dalam Istana.

Selama di dalam istana, kami menyimak penjelaan yang diberikan oleh Ms. Jansu. Saya berkesimpulan bahwa protokoler kesultanan sangat formal dan ketat sekali.

Di depan Gapura Istana Dolmabahce

Selesai kami menapak tilasi  Istana Dolmabahce, kami langsung menuju ke Museum Hagia Sophia (Aya sopia). Pada saat Istanbul masih dikuasai oleh pasukan romawi, bangunan ini berfungsi sebagai gereja agung. Baru pada saat Istanbul ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih, bangunan ini berganti fungsi menjadi Masjid. Tapi kini bangunan ini tidak lagi menjadi Masjid atau gereja, melainkan menjadi Museum. Maka untuk bisa masuk ke dalam Museum Hagia Sophia, kami membeli tiket seharga 40 TL (sekitar Rp. 140.000) untuk 1x masuk.

Tidak Jauh dari Museum Hagia Sophia,  terdapat masjid besar yang dikenal dengan nama Blue Mosque.

Masjid Biru (Blue Mosque) disebut juga dengan Masjid Sultan Ahmed I. karena memang masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ahmed I. letak masjid ini yang 1 blok dengan Museum Hagia Sophia adalah karena tujuan pembangunan masjid ini untuk menandingi kemegahan Hagia Sophia. Walau saat itu Hagia Sophia sudah alih fungsi menjadi masjid, tapi bagi Sultan Ahmed I tetap perlu dibangun masjid asli yang megahnya sama dengan Hagia Sophia.

Masjid Biru yang elok nan rupawan ini, memiliki 6 menara, Masjid ini adalah satu dari dua buah masjid di Turki yang mempunyai enam menara, yang satu lagi berada di Adana.

Menurut legenda, Sultan Ahmed I meminta kepada Mehmed Aga Sang Arsitek untuk membuat menara yang terbuat dari emas. Kata emas dalam bahasa Turki adalah “altin”. Apa mau dikata, sang arsitek salah mendengar. Ia mengira Sultan Ahmed I ingin memiliki masjid dengan 6 menara. Kata enam dalam bahasa Turki bunyinya “alti” dan memang terdengar amat mirip dengan “altin”.

 

Foto : (atas) berfoto di taman dengan latar Blue Mosque, (Bawah) Blue Mosque tampak depan.

Kami melakukan salat jamak taqdim qashar secara berjamaah di Masjid biru ini. Dan kami mendapati bahwa bukan saja orang Muslim yang masuk untuk melihat masjid ini dari dalam, tapi juga orang-orang non-muslim pun juga ikut masuk walau hanya sampai batas belakang masjid.

Setelah kami melakukan salat jamak taqdim qashar di masjid ini, kami beranjak ke restoran untuk makan siang. Menu makan siang kami kali ini adalah kebab Turki. Imajinasi saya mengantarkan saya berfikir bahwa kebab turki yang akan kami makan sama seperti kebab turki yang ada di Indonesia, tapi rupanya berbeda, baik bentuk dan rasanya..

Kebab Turki Asli Turki

Bagi kita yang kolesterol dan hipertensi sangat tidak dianjurkan makan kebab di Turki ini..

Selepas makan siang kami langsung menuju ke pusat perbelanjaan yang sangat Mashur di negeri ini yang dinamakan Grand Bazar.

Dari foto di atas kita dapat melihat bahwa Grand Bazar sebenarnya adalah tempat perbelanjaan biasa layaknya plaza Blok M, Tanah abang, atau mungkin Taman puring. Kepiawaian kita dalam menawar harga menjadi penting ketika mau berbelanja di pasar ini.

Salat Maghrib dan Isya kami lakukan secara jamak taqdim qasar di Hotel Hilton Bosporous. Makan malamnya kami lakukan di restoran luar hotel sambil menikmati tarian tradisional turki. Setelah selesai, kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Setelah sarapan pagi pada hari ke-4 ini, agenda kami adalah mendatangi Istana Topkapi atau sekarang dikenal dengan Museum Topkapi. Sama seperti Hagia Sophia, kami harus membayar 40 TL untuk bisa masuk kedalam museum Topkapi. Bangunan museum topkapi memang seperti bangunan-bangunan mewah khas eropa masa lampau. Karena luasnya area museum, kami tidak mendatangi semua area, melainkan hanya beberapa area penting saja. Dan sama seperti di Istana Dolmabahce, kami tidak diizinkan untuk mengabadikan gambar tentang keadaan dalam museum.

Pada masa kerajaan Turki Usmani berkuasa, Saudi Arabia adalah bagian dari daerah kekuasaan Turki Usmani. Sehingga banyak benda-benda bersejarah dari Mekah dan Madinah yang tersimpan di Turki, yaitu di Istana Topkapi ini. Diantara benda bersejarah dari Mekah dan Madinah yang tersimpan di Museum Topkapi ini adalah; kunci Ka’bah, talang emas ka’bah, besi pelindung hajar aswad, pedang Rasulullah dan para sahabat Beliau, tongkat Nabi Musa, gigi Rasulullah Saw. Lagi-lagi kami ber 13 mengucapkan tasbih kepada Allah ketika melihat benda-benda bersejarah ini dari dekat.

 

Foto didepan Gapura Museum Topkapi dan dibelakang Museum Topkapi

Sebenarnya ada satu agenda acara yang ditolak oleh para jamaah yaitu melintasi Selat Bosporous dengan kapal boat. Para jamaah menolak dengan alasan keamanan. Sehingga kami langsung menuju restoran yang berada di bawah Jembatan Galata untuk makan siang.

 

 

Selepas Makan siang di bawah Jembatan Galata, kami menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan elite Turki yang terletak di daerah Taksim. Kami berada di Taksim sampai waktu Maghrib. Setelah melakukan Salat Jamak Taqdim Qashar, kamu menuju restoran Thailand untuk makan malam. Selesai makan malam, kami langsung menuju ke Attaturk Internasional Airport untuk kepulangan ke Indonesia. Berbeda saat keberangkatan dari Jedah yang sepi penumpang, saat kepulangan ke Indonesia ini pesawat Turkish Airline TK-097 full oleh penumpang yang mayoritas dari Indonesia. Seperti yang saya tulis diawal bahwa minat Masyarakat Muslim Indonesia untuk berwisata ke Turki ini cukup besar. Dalam perjalana pulang saya tak lupa mengucapkan puji syukur kepada Allah atas kesempatan yang saya dapat ini, sambil berfikir apakah pariwisata di Indonesia sudah digarap sebaik dan seprofesional seperti di Turki??

 

 



Muthawif Maktour Group

berita