12 Desember 2018

Rahasia Sukses Bisnis Rasul dan Para Sahabat

Keberhasilan Rasulullah dalam berbisnis amat patut dicontoh kaum Muslimin. Terlepas dari jiwa entrepreneur dan keturunan yang memang dari para pengusaha, Rasulullah memiliki rahasia kunci sukses bisnisnya.

Muhammad Sulaiman PhD dan Aizuddinur Zakaria dalam Jejak Bisnis Rasul menuturkan, terdapat empat sifat nabi yang harus ada dalam diri seorang pengusaha. Empat sifat tersebut yaitu  shiddiq (jujur), yakni jujur pada diri sendiri dan orang lain akan melahirkan sifat keyakinan dan keberanian menghadapi ujian.

Kemudian, amanah (dapat dipercaya), mendorong seseorang untuk bertanggung jawab, membangun kekuatan diri dan memperbaiki kualitas hubungan sosial. Lalu  tablig (komunikatif), yang berarti pebisnis harus menjadi marketing yang hebat dan seorang pembicara yang unggul. Dan terakhir, fathonah (cerdik), yaitu pebisnis harus memiliki kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda, lalu muncul kreativitas, ide, dan wawasan. Sehingga, produk atau jasa yang dihasilkan menjadi unggulan.

Beberapa contoh prinsip-prinsip bisnis yang digali dari sifat Rasulullah, menurut Sulaiman dan Zakaria, misalnya, re-branding dengan mengubah Yatsrib menjadi Madinah. Contoh lain yakni pemasaran holistic terlihat dari strategi rasul membagi empat pasukan saat fathul makkah.

Lalu sifat visioner, rasul menyetujui perjanjian hudaibiyyah yang merugikan saat perjanjian itu ditandatangani, namun menguntungkan di masa yang akan datang. Serta sifat lain Rasulullah yang begitu mencerminkan entrepreneur.

Malahayati dalam Rahasia Bisnis Rasulullah mengatakan, Rasulullah sukses dalam berwirausaha karena meyakini kerja sebagai ibadah. Dia sangat kreatif, visioner, the power of love,  dan pandai bersyukur. "Sukses bisnis Rasulullah karena manajemen yang andal, memahami konsumen, serta pintar melihat pangsa pasar," ujarnya.

Tak hanya Rasulullah, para sahabat pun merupakan entrepreneur yang andal. Mereka sangat trampil dalam menjalankan bisnis. Kekayaan mereka mencapai ribuan dinar, atau dengan kata lain mereka merupakan para konglomerat.

Beberapa sahabat Rasul yang  menjadi konglomerat tersebut, antara lain, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Amr bin Ash. Namun, di antara para sahabat Rasul, yang kekayaannya terbanyak dan bisnisnya tersukses yakni Abdurrahman bin Auf.

Sekali duduk di majelis, Abdurrahman bin Auf mampu menyumbang ribuan dinar.  Dia merupakan sosok kaya raya yang amat rendah hati. Sumbangan terbesarnya bagi Muslimin yakni saat Rasulullah hendak melaksanakan Perang Tabuk. Saat itu rasulullah dilanda kekurangan perbekalan yang amat sangat.

Datanglah Abdurrahman bin 'Auf membawa dua ratus 'uqiyah emas atau jika dinilai saat ini sekitar Rp 2,9 miliar kemudian menginfakkannya di jalan Allah. Melihat besarnya harta yang diinfakkan, Umar bin Khattab berdecak heran. "Sungguh aku melihat, Abdurrahman merupakan orang yang berdosa karena dia tidak meninggalkan sesuatu apa pun untuk keluarganya," ujar Umar.

Rasulullah pun bertanya kepada Abdurrahman bin Auf saat itu,  "Wahai Abdurrahman, apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?" Dia pun kemudian menjawab, "Wahai Rasulullah, aku telah meninggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik dari yang telah aku infakkan," jawab Abdurrahman bin Auf.

Rasulullah kembali bertanya, "Apakah itu?" Abdurrahman menjawab, "Apa yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya berupa rezeki dan kebaikan serta pahala yang banyak," jawabnya ringan.

Kekayaan Abdurrahman bin Auf tak menjadikannya sombong seperti Qarun di masa Nabi Musa. Dia terkenal sangat dermawan dan baik hati. Tak heran jika dia termasuk satu dari 10 sahabat yang dijanjikan surga.

Untuk meraih kekayaan tersebut, Abdurrahman bin Auf melakukan wirausaha. Dia memiliki etos kerja yang tinggi. Jiwa entrepreneur jelas melekat pada dirinya hingga menjadi pengusaha paling sukses kala itu.

Jiwa wirausaha Abdurrahman bin Auf terlihat saat hijrah ke Madinah. Kekayaannya di Makkah telah ditinggalkannya. Namun, saat tinggal di kota Rasul, hal pertama yang ia cari ialah pasar. Bahkan, dia enggan menerima begitu saja bantuan dari kaum Anshar.

Saat di Madinah, Rasulullah menyaudarakan Abdurrahman bin Auf dengab Sa'ad bin Rabi'. Saudara angkat tersebut pun berkata kepada Abdurrahman, "Wahai saudaraku, aku memiliki dua kebun, pilihlah mana yang engkau suka, lalu ambillah," ujarnya. Namun, Abdurrahman bin Auf justru menjawab, "Semoga Allah memberikan berkah kepada harta dan keluargamu. Akan tetapi, tunjukkanlah kepadaku pasar," ujar Abdurrahman.

sumber : https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/12/11/pjkfr1313-rahasia-sukses-bisnis-rasul-dan-para-sahabat

 

artikel