28 Maret 2019

Cuaca Panas Ekstrim di Tanah Suci

Komisioner Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) Bidang Kesehatan, dr Abidinsyah Siregar. mengatakan, cuaca di Arab Saudi saat musim haji yang akan datang akan sangat panas, dengan suhu sekitar 35-40 derajat. 

"Yang perlu diwaspadai adalah sewaktu-waktu terjadi panas ekstrim. Jamaah harus memahami bahwa 85 persen dari tubuh adalah air, dan dalam kondisi panas itu akan menguap," kata Abidinsyah saat dihubungi Republika.co.id.

Ia melanjutkan, penguapan air dalam tubuh bisa menimbulkan masalah. Proses penguapan air dari tubuh memang tidak terlihat dan tidak mengeluarkan keringat. Sehingga, jamaah kerap kurang waspada dan mengabaikan pola minum yang baik. 

Dalam hal ini, Abidinsyah mengingatkan jamaah akan kebiasaan minum air putih selama di tanah suci. Jamaah sebaiknya meminum air sebanyak 3 liter atau sekitar 10-15 gelas setiap harinya secara teratur. Selain itu, jamaah juga diingatkan agar mengonsumsi buah-buahan yang cukup dan makan secara teratur.

Ia juga menyarankan agar jamaah menerapkan pola tidur atau beristirahat yang cukup. Jamaah sebaiknya tidak mudah terpengaruh dengan ajakan untuk keluar beraktivitas setiap hari, sementara pelaksanaan ritual ibadah haji belum dimulai.

"Yang paling penting, haji itu harus sampai ke Arafah. Jangan sampai tubuh lebih dulu kelelahan sebalum ibadah yang terkait haji dimulai," ujarnya. 

Selain itu, ia menyarankan agar jamaah membawa masker karena udara di Arab Saudi yang tipis dan berdebu. Ia mengatakan, cuaca panas bahkan bisa menyebabkan hidung mengeluarkan darah karena pembuluh darah di bagian dalam hidung pecah. 

Karena itu, menurutnya, jamaah sebaiknya memakai masker supaya mendinginkan hidung dan bibir yang merupakan jaringan halus serta untuk melindungi dari debu. Ia menyarankan agar masker tersebut dibasahi dengan cara disemprot air supaya memberikan efek sejuk.

Jamaah, menurutnya, juga boleh saja membawa payung untuk menghindari terik panas secara langsung. Akan tetapi, penyelenggaraan ibadah haji dinilainya kian baik. Jamaah hampir tidak terpapar lama di bawah matahari. Karena begitu jamaah keluar hotel, jamaah bisa langsung mendapati bus yang akan mengangkut jamaah ke Masjid Al Haram. 

Dengan demikian, ia mengatakan membawa payung tidak menjadi kewajiban bagi semua jamaah. Di Arafah, jamaah akan lebih banyak berada di dalam tenda. Selanjutnya, jamaah bergerak ke Muzdalifah dan Mina. 

Di Mina, lanjut Abidinsyah, jamaah juga akan berada di dalam tenda-tenda yang nyaman. Namun, ia mengingatkan agar jamaah mewaspadai saat perjalanan dari Mina ke Jamarat untuk melempar jumrah. 

"Perjalanan berangkat ke Jamarat kira-kira bisa mencapai 3 km dan kembali bisa mencapai 7 km. Jamaah memang harus berjalan terkadang di ruang terbuka dan di dalam terowongan," lanjutnya.

Akan tetapi, jamaah juga bisa berlega hati. Karena menurutnya, petugas haji Indonesia sudah mengatur sedemikian rupa agar kegiatan lempar jumrah dilakukan pada pagi hari saat masih sejuk atau saat menjelang malam dan malam hari. Sehingga, jamaah tidak terpapar matahari. Sementara saat matahari begitu panas, semua jamaah berada di tenda masing-masing. 

"Sepanjang kedisiplinan dijaga, jamaah bisa aman dan selamat dalam melaksanakan ibadah haji. Ikutilah petunjuk atau arahan dan kebiasaan baik. Minum dan makan yang cukup, serta istirahat cukup," tambahnya.

Sumber : Republika

berita