20 Februari 2015

Haji Khusus Dihapus, Revisi Dulu Undang-Undang Haji

Wacana penghapusan Haji khusus ternyata mendapatkan penolakan dari masyarakat. Salah satu jamaah, Nurul Huda Putri menilai pelaksananaan haji khusus, sudah ada dalam Undang-Undang Haji.

Menurut Putri, bila ingin haji khusus dihapus, maka harus ada perubahan undang-undang. Perubahan undang-undang sendiri bukan perkara mudah karena harus melalui proses yang cukup panjang.

"Kalau mau haji khusus dihapus, silahkan saja. Tapi harus revisi dulu Undang-undang Haji," ungkap Nurul Huda Putri, seorang calon jamaah kepada Republika di Jakarta, akhir pekan lalu.

Putri yang ditemui ketika tengah mengikuti pelatihan manasik yang diselenggarakan Travel Haji Khusus Maktour, mengaku bila haji khusus dihapuskan cukup mengganggu.

Menurut wanita yang sehari-hari bekerja ini, penyelenggara ibadah haji khusus buat para pekerja seperti dirinya yang tidak memiliki waktu luang, sangat membantu. Karena itu, ia menolak penghapusan haji khusus. ''Haji khusus menjadi pilihan yang tepat,'' ujar Putri.

Putri menolak anggapan jamaah haji khusus menyebabkan antrian panjang pada haji reguler. ''Antrian di Indonesia baru belasan tahun. Coba perhatikan antrian di negara tetangga yang sudah mencapai puluhan tahun.''

Karena itu, Putri mengusulkan anggota dewan yang mewacanakan perlunya haji khusus dihapus, agar belajar ke Malaysia. "Di Malaysia antrian haji bisa sampai 50 tahun,'' paparnya.

Putri yang akan umrah bersama keluarga besarnya berpandangan, menunaikan ibadah haji dan umrah bersama penyelenggara haji khusus, semata-mata demi kenyamanan dalam beribadah.

''Kita ke Tanah Suci ingin beribadah. Nggak mau direpotkan dengan berbagai persoalan seperti transportasi, akomodasi dan lainnya,'' jelasnya.

Bersama Travel Haji Khusus, ia benar-benar mendapatkan kenyamanan dalam beribadah. Dalam beribadah, kata dia, kenyamanan sangat berpengaruh dalam kekhusyukan sehingga mampu membuat ibadah lebih baik lagi.

Menyinggung biaya mahal untuk berangkat dengan Travel Haji Khusus, ia mengatakan, "Ada rupa, ada harga. Jadi normal saja bila ingin beribadah ke Tanah Suci dengan memilih travel yang menyajikan pelayanan khusus," ujarnya menjelaskan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA

berita